Rabu, 14 Oktober 2015

Foto hanya ilustrasi saja
Adalah sebuah keistimewaan bagi ummat nabi mUhammad bisa merasakan kemu’jizatan nabinya meskipun sudah ditinggalkan. Yaitu Al quran, dimana ia menjadi satu-satunya mukjizat Nabi Muhammad yang masih bisa kita rasakan dengan melihat (membaca), mentadaburi memahami dan menghafalkannya. Berinteraksi dengan Al Qur’an seluruhnya baik, bagaimana tidak? Al qur’an merupakan syariat Agama yang diturunkan langsung kedalam hati Nabi Muhammad SAW, merupakan penutup dan penyempurna syariat bagi agama-agama sebelumnya, ia merupakan perkataan Alloh yang kekal abadi dan tidak datang padanya kebathilan :

﴿ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ ﴾

Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji ( Fushshilat :42)

Berikut ini beberapa bentuk interaksi Al Qur’an yang apabila dilakukan akan mendatangkan kebaikan darinya :

1. Mencintai Al Qur’an

Yang dimaksud disini adalah rasa cinta semata, yaitu sebuah perasaan suka, cinta dengan al qur’an meskipun hanya sebatas perasaan dalam hati saja dan tidak mendatangkan bentuk interaksi lainnya. Rosululloh Saw bersabda :

من أَحَبَّ الْقُرْآنَ فَلْيُبْشِ

Artinya : “Barang Siapa mencintai Al Qur’an maka berbahagialah” (HR Ad Darimi)

Berbahagialah karena rasa cintanya dengan Al quran dan berbahagialah karena kebahagiaan ini yang akan disediakan bagi orang yang mencintai Al Qur’an

2. Mampir di Majlis Qur’an (tanpa disengaja)

Yang dimaksud disini adalah duduk dalam halaqoh qur’an tanpa bermaksud mengikuti halaqoh tersebut maupun ingin mendengarkannya, akan tetapi duduk dalam halaqoh al Qur’an karena terpaksa atau ada keperluan dengan orang lain yang kebetulan sedang berada didalam majlis tersebut sehingga ia harus menunggunya dan ikut (nimbrung) di halaqoh tersebut

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : " إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلاَئِكَةً سَيَّارَةً فُضُلاً يَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ ، قَالَ : فَيَسْأَلُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ . مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُولُونَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ ، وَيُكَبِّرُونَكَ ، وَيُهَلِّلُونَكَ ، وَيَحْمَدُونَكَ ، وَيَسْأَلُونَكَ . قَالَ : وَمَاذَا يَسْأَلُونِي ؟ قَالُوا : يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ . قَالَ : وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي ؟ قَالُوا : لاَ , أَيْ رَبِّ . قَالَ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي ؟ قَالُوا : وَيَسْتَجِيرُونَكَ . قَالَ : وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي ؟ قَالُوا : مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ ، قَالَ : وَهَلْ رَأَوْا نَارِي ؟ قَالُوا : لاَ . قَالَ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي ؟ قَالُوا : وَيَسْتَغْفِرُونَكَ . - قَالَ - فَيَقُولُ : قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا - قَالَ - فَيَقُولُونَ : رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ , عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ . قَالَ : فَيَقُولُ : وَلَهُ غَفَرْتُ هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Dari Abu Hurairah –Radhiyallahu’anhu- dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, mereka pun duduk disana dengan membentangkan sayap mereka, hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit paling bawah, dan jika majelis dzikir itu telah selesai, mereka pun naik ke langit.” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meneruskan sabdanya : “Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka. Dan Dia lebih tahu daripada mereka. “Kalian datang dari mana?” Mereka (para malaikat) berkata : “Kami datang dari sisi hamba – hamba Mu dibumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan meminta kepada Mu.” Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya : “Apa yang mereka minta?” Para Malaikat menjawab : “Mereka memohon surga-Mu?” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya lagi : “Apakah mereka pernah melihat Surga Ku?” Para Malaikat menjawab : “Belum, mereka belum pernah melihatnya.” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Bagaimana seandainya mereka melihat surga-Ku” Para malaikat berkata lagi : “Mereka juga memohon perlindungan kepada Mu.” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya : “Dari apa mereka meminta perlindungan kepada Ku?” Para Malaikat menjawab : “(Mereka meminta perlindungan) dari Neraka Mu ya Rabb.” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya lagi : “Apakah mereka pernah melihat neraka Ku?” Para Malaikat menjawab : “Belum pernah” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Bagaimana seandainya mereka melihat neraka Ku.” Para Malaikat pun berkata : “Mereka juga memohon ampun kepada Mu?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Ketahuilah hai para Malaikat Ku, Sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan melindungi mereka dari neraka.” Para Malaikat berkata : “Ya Rabb, didalam majelis itu ada seorang hamba yang banyak berbuat dosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.” Allah Subhanahu wa ta’ala pun berfirman : “Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak akan celaka karena mereka.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah didalam shahih nya, hadits no 6839 : 2689]

3. Duduk dalam majlis Quran (dengan sengaja)

Jika sebelumnya orang yang kebetulan lewat lalu mampir ke sebuah majlis qur’an, atau alasan lain yang mengharuskan ia duduk dlalam majlis tersebut maka iapun ikut mendapatkan keutamaan dan keberkahan majlis Al qur’an. lalu bagaimana halnya jika duduk di majlis al Qur’an memang sengaja ingin mendengar dan belajar al Qur’an melalui majlis tersebut? Berikut penjelasan hadits Rosululloh SAW

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًـا ، سَهَّـلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَـى الْـجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَـوْمٌ فِـي بَـيْتٍ مِنْ بُـيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَـهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَـزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ، وَغَشِـيَـتْـهُمُ الرَّحْـمَةُ ، وَحَفَّـتْـهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ ، وَذَكَـرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّـأَ بِـهِ عَمَلُـهُ ، لَـمْ يُسْرِعْ بِـهِ نَـسَبُـهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.”

4. Menghadiri Majlis Qu’an

dengan niat dan tujuan sepenuhnya untuk belajar memahami Al Qur’an. Sebab dalam mempelajari Al Qur’an memiliki permulaan dan Akhiran maka orang yang belajar dengan serius akan mendapati pembukaan dan khataman Al Qur’an. padahal dua keadaan ini adalah kondisi dimana kebaikan dan keberkahan didapat. Rosululloh SAW bersabda :

من شَهِدَ الْقُرْآنَ حين يفتتح فَكَأَنَّمَا شَهِدَ فَتْحًا في سَبِيلِ اللهِ وَمَنْ شَهِدَ خَتْمَهُ حين يُخْتَمُ فَكَأَنَّمَا شَهِدَ الْغَنَائِمَ حين تُقْسَمُ

Artinya : Barang siapa yang menyaksikan Al Qur’an saat pembukaan (pelajari) maka seakan-akan ia telah menyaksikan sebuah kemenangan dalam jihad fisabilillah, dan barang siapa menyaksikan Al qur’an saat penutupan maka seakan-akan ia menyaksikan ghanimah (harta rampasan perang) sedang dibagi-bagi. (HR Ad Darimi)

5. mendengarkan Al Qur’an


Diantara bentuk keistimewaan Al Qur’an adalah berpahala apabila mendengar ayat Al Qur’an dibaca melalui kaset atau alat pemutar suara lainnya, yaitu sebatas mendengarkan suara Al Quran yang diputar melalui music player tanpa menyengaja untuk mendengarkannya. ini perbuatan terpuji yang Alloh SWT memuji hal tersebut, Alloh berfirman :

﴿ وَإِذَا سَمِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ ﴾

Artinya : Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.) (QS Al Maidah : 83)

6. Sengaja Mendengarkan Al Quran

Yaitu mendengarkan dengan penuh perhatian, bersungguh-sungguh untuk menyimak ayat yang sedang didengarkannya. dan memang inilah yang diperintahkan kepada kita apabila mendengarkan Al Qur’an tidak sekedar mendengarkannya. tetapi dengar dan perhatikan baik-baik. Alloh Berfirman :

﴿ وَإِذَا قُرِىءَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴾

Artinya : Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS Al A’rof: 204)

Dan Rosululloh SAW bersabda :

وعن أنس-رضي الله عنه- قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم- : (من استمع إلى آية من كتاب الله كانت له حسنة مضاعفة، ومن تعلَّمَ آيةً من كتاب الله كانت له نورا يوم القيامة(

Dari Anas Rodhiyallohu anh, berkata Rosululloh SAW bersabda : “Barang siapa mendengarkan ayat Al Qur’an maka baginya kebaikan yang berlipat, dan barang siapa belajar satu ayat dari Al Qur’an maka baginya cahaya pada hari qiamat. (Musnad Ahmad bin Hanbal)

وعن أبي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم- قال: ( مَنِ اسْتَمَعَ إلى آيَةٍ من كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى كتب له حَسَنَةٌ مُضَاعَفَةٌ ، وَمَنْ تَلاَهَا كانت له نُوراً يوم الْقِيَامَةِ(

Dan dari Abu Hurairoh Rosululloh SAW bersabda : “Barang siapa mendengarkan ayat Al Qur’an yang dibaca maka dicatat baginya kebaikan yang berlipat-lipat, dan barang siapa membacanya maka ia menjadi cahaya pada hari kiamat. (HR At Tirmidzi)

7. Inshot (diam) saat mendengar Al Qur’an

Diantara bentuk interaksi dengan Al Qur’an adalah mendengarkan Al Qur’an, makna mendengarkan dengan menggunakan kalimat al inshot-anshit yang berarti diam adalah bukan sekedar diam namun kondisi diam dengan membatasi fikiran untuk focus pada apa yang didengarkannya saja tanpa melakukan aktifitas lainnya. Seperti yang terdapa pada ayat berikut ini :

﴿ وَإِذَا قُرِىءَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴾

Artinya : Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS Al A’rof: 204)

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas tentang tafsir ayat diatas bahwa : Dahulu jika kami mendengar ayat al qur’an yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman” kami mendengarkan dan memperhatikan sehingga kami faham isi seruannya berupa larangan atau kewajiban.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget